logo
(021) 30014938, 08111-874448info@xenostemcell-indonesia.com

Manfaat lain Terapi Stem Cell

Manfaat lain Terapi Stem Cell
Dari sejarah 70 tahun lebih Terapi Stem Cell nampak bahwa Terapi Stem Cell sering dilakukan pada pasien yang gagal mendapat kesembuhan dengan terapi yang ada.

Diantaranya ialah pasien endometriosis . Hanya pasien endometriosislah yang dapat mengerti betapa menyiksanya penyakit ini , bagaimana rasa sakit dan gejala lain dapat mengarahkan seseorang untuk bunuh diri terutama bila tidak ada terapi yang dapat memberi rasa nyaman/lega.

Beberapa pasien yang hampir putus asa telah diobati melalui Terapi Stem Cell BCRO dengan hasil sangat baik. Terapi Stem Cell bukanlah pilihan utama pengobatan endometriosis tetapi merupakan opsi yang dapat dipakai bila semua pengobatan lain gagal semua.

Pada umumnya pasien dengan Myoma Uteri menjalani histerektomi (pengangkatan rahim), namun dengan Terapi Stem Cell tindakan operatif itu dapat dihindari atau ditunda.


A. Infertilitas Pria.
Ketidak suburan pria merupakan 50 % penyebab kegagalan pasangan untuk mendapat anak.
Tingkat keberhasilan pengobatan infertilitas pada pria, terutama pada azoospermia (tidak adanya sperma) , oligo spermia (kurangnya jumlah sperma) atau kerusakan pada sperma dengan terapi kedokteran modern hampir mendekati nol .
Jadi dengan berkembangnya teknik fertilisasi in vitro , ketidak suburan pria telah menjadi masalah yang jauh lebih serius dari pada masalah ketidak suburan wanita.
Tidak mengherankan bahwa, pasien dengan Oligo Spermia memberi respon baik pada Terapi Stem Cell . Pengalaman kami pada pasien dengan azoospermia hasil Terapi Stem Cell sangat rendah.

Pada infertilitas wanita kadang-kadang pembuahan in-Vitro (bayi tabung) berulang kali gagal dan tidak dapat dijelaskan kenapa walau memakai metode diagnostik yang paling canggih.

Terapi Stem Cell seharusnya dipertimbangkan pada kasus seperti ini,disusul dengan usaha pembuahan in vitro lagi setelah 4 minggu. Walau sukar untuk mendapatkan laporan medisnya tetapi cara ini merupakan rahasia yang dijaga rapat rapat oleh para ahli kebidanan yang menangani masalah infertilitas jauh sebelum adanya pembuahan in vitro.

B. Gangguan Imunitas.
Penyakit-penyakit akibat penurunan imunitas seperti HIV- AIDS, Sindroma kelemahan kronis dan juga kanker dan penyakit-penyakit auto imun merupakan penyakit yang sulit diatasi kedokteran modern karena :

  1. Kesembuhan hampir tidak pernah terjadi.
  2. Tidak mungkin untuk menghambat lajunya penyakit seperti ini.

Dalam empat tahun terakhir telah dikembangkan sejumlah penelitian oleh para dokter dan melaporkan keberhasilan pengobatan berbagai jenis kanker dengan Terapi Stem Cell (SCT) baik yang bersifat padat (seperti kanker usus besar) maupun yang menyebar (seperti leukemia) dan lain-lain.

Fakta ilmiah bahwa Terapi Stem Cell merupakan stimulans sistem imunitas yang paling kuat di bidang kedokteran saat ini, sudah bukan merupakan rahasia lagi.
Terapi Stem Cell dengan sangat baik menstimulasi sistem kekebalan terutama yang karena sesuatu hal menjadi lemah.
Suatu organisme hidup tidak mungkin terpelihara tanpa pertahanan terhadap faktor-faktor yang merugikan baik dari dalam maupun dari luar, hidup maupun mati.

Walaupun sangat canggih sistem kekebalan bekerja berdasarkan prinsip dasar yang sangat sederhana yaitu membedakan antara diri (sendiri) dan benda asing dan menyerang benda asing dengan tujuan akhir mengeluarkannya dari dalam tubuh.
Biasanya kita berhasil, misalnya pada saat tubuh kita menyerang mikroba yang patogen tetapi kadang kala seperti pada saat tubuh kita bergantung pada organ yang ditransplantasikan,misalnya jantung, ginjal dan hati akan terjadi sistem imunitas menyerang dan menyebabkan efek penolakan.

Sistem immun / kekebalan manusia terdiri dari 4 komponen yaitu :

  1. Epiltel permukaan , yang melindungi kita dari dunia luar dan berbagai mikroba di dalam tubuh kita sendiri (didalam tubuh kita terdapat lebih banyak sel mikroba dari pada sel kita sendiri) secara historis ini merupakan bagian tertua dari sistim pertahan tubuh.
  2. Sistem reticulo-histiosit yang tersebar diseluruh tubuh kita, bagian ini secara historis berkembang lebih kemudian dari yang pertama.
  3. Sistem Thimo-limphatik, terdiri dari kelenjar Thymus dan jaringan pembuluh limpa yang membawa cairan limpa dan disaring di nodus2nya.
  4. Limpa, yang fungsinya antara lain menyaring darah .
  5. kedua bagian terakhir ini berkembang sangat akhir (termuda ).


Sel limposit merupakan sel paling penting didalam sistem pertahanan. Lebih dari satu triliun ada di dalam tubuh kita pada suatu waktu, bersirkulasi di dalam darah atau didalam nodus limpa. Terdapat dua macam limposit : Sel T dan Sel B
Keduanya di bentuk di dalam sumsum tulang. Sel B menjadi dewasa didalam darah sedang sel T harus melewati dan menjadi dewasa di kelenjar thimus.
Thimus yang berlokasi di belakang tulang dada berfungsi sebagai sersan pelatih pemberi instruksi kepada limposit bagaimana mengenali benda asing dan apa yang harus dilakukan bila benda asing menyerang tubuh kita.

Sel T adalah prajurit penjaga tubuh kita bila si penyerbu/ ada benda asing memasuki tubuh,(kita)pada saat bersamaan (mana)sel T memberikan tanda dan mengarahkan untuk melawan benda asing tersebut.Membunyikan alarm dan mengarahkan pertempuran. Dengan suatu sistem yang sangat canggih sel T memobilisasi limposit, makrofag dan senjata lain seperti (komplemen,cytokinase,dan lain-lain) untuk melawan benda asing tersebut.musuh. Mereka akan langsung masuk ajang pertempuran.

Sel B menghasilkan sel plasma yang menghasilkan antibodi, sistem ini punya memori, bila sel Beta sudah menghasilkan suatu antibodi untuk melawan suatu antigen asing maka untuk serangan kemudian sel tersebut tidak pernah lupa cara membuat anti bodi yang sama. Jadi setiap gelombang serangan infeksi yang sama akan mendapatkan perlawanan dengan antigen yang sama dan bekerja lebih efektif.
Inilah dasar dari imunisasi,dan menjelaskan mengapa kita terserang beberapa penyakit waktu masih anak-anak,hanya sekali.
Kadang kala memori pembuatan antibodi ini bisa juga bekerja melawan diri sendiri.Bila kita alergi terhadap sesuatu maka obyeknya sendiri bukan ancaman , memori imun tubuh kita dapat melepaskan senjata biokimia sebagai pertahanan dan ini dapat berubah menjadi penyakit dalam bentuk ringan seperti sesak,sampai berat misalnya kematian karena shok anafilaktik.
Kadang-kadang sistem imun kita gagal mengenali bagian tubuh kita sendiri dan menyerangnya sebagai benda asing. Ini menimbulkan penyakit penyakit anti imun seperti rheumatoid arthritis, sistemic lupus erythematosus, multiple schlerosis, glomerulonephritis,dan lain-lain, yang tidak ada pengobatan yang tepat.

Kemampuan sistem imun kita untuk bertahan memiliki pola tertentu, pada fase embrional dan fase janin berada pada keadaan imunotoleransi,(pada saat itu sistem pertahanan sama sekali tak berfungsi, karenanya masih bergantung pada daya tahan yang didapat dari Ibu hamil dan dari plasenta), kemudian sistem imunitas tubuh akan berangsur-angsur berkembang sampai mencapai puncaknya pada usia 10-15 tahun.

Selama masa akil baliq fungsi sistem imun akan ditekan kembali , waktu tepatnya bergantung pada jenis kelamin. Setelah itu sistem imun akan bekerja dengan kapasitas penuh selama 30-35 tahun berikutnya, pada usia 40-an suatu periode kemunduran tidak dapat dihindari, sistem imun akan terus menurun hingga mencapai periode paralisis imun senil pada saat mana tubuh tidak berdaya melawan keganasan dan bahkan terhadap bentuk infeksi biasa.

Keberhasilan yang luar biasa dalam pengobatan HIV-AIDS pada tahap pra terminal dengan Terapi Stem Cell merupakan bukti terbaik yang mendukung pernyataan diatas.

C. Penuaan.
”Aging/penuaan memang tidak ada obatnya” menjadi slogan yang didengungkan selama puluhan tahun oleh otoritas pengatur obat. Tetapi empat juta (80%) dari total lima juta pasien yang telah mendapat Terapi Stem Cell ( SCT ) diseluruh dunia menjalani pengobatan karena menderita penyakit penuaan. Keputusan mereka didasari oleh instink dan intuisi dan sama sekali mengabaikan pernyataan resmi tentang tidak adanya protokol penelitian yang baik untuk membuktikan nilai pengobatan dalam menghambat proses penuaan karena masalahnya bukan menambah beberapa tahun kehidupan tetapi menambah kehidupan pada tahun-tahun yang ada.

Merck Manual of Geriatrics edisi tahun 1995 membuat definisi “ penuaan biasa” sebagai perubahan sebagai akibat gabungan efek negatif dari lingkungan dan gaya hidup sementara itu “penuaan yang berhasil“ ialah perubahan yang hanya disebabkan oleh proses penuaan tidak dipersulit oleh kerusakan yang disebabkan oleh lingkungan,gaya hidup atau akibat penyakit.
Dalam kenyataan “ penuaan biasa “ seharusnya diklasifikasikan sebagai penyakit dan demikian juga semua penyakit yang berkaitan dengan penuaan.

Para ahli setuju bahwa secara genetik kita diprogramkan untuk hidup selama 120 tahun. Dalam kenyataannya kita hanya hidup rata-rata kurang dari 80 tahun (di Negara maju) dalam masyarakat yang gaya hidupnya sederhana ada orang orang seringkali hidupnya jauh lebih panjang. Tetapi di Negara Barat semakin banyak orang juga mengalami “ penuaan yang berhasil “ misalnya orang usia lanjut dapat mencapai tingkat konsumsi Oxigen sama seperti orang muda dewasa bila melakukan latihan aerobic secara teratur.

Proses penuaan terprogram secara genetik yang seharusnya mengantar kita kepada kematian yang normal pada usia 120 tahun (normal aging), secara prinsip telah terkendala oleh tiga faktor :

  1. Penyakit berat
  2. Trauma yang parah
  3. Penuaan abnormal, atau penyakit menua


D. Penyakit Parkinson.
Penyakit Parkinson menjadi tonggak sejarah Terapi Stem Cell (SCT) sejumlah pengobatan dilakukan di Mexico City tahun 1980-an pada sekelompok pasien dengan kondisi parah dari penyakit yang tidak dapat diobati dengan berbagai tingkat keberhasilan pengobatan ini dinamakan Neurotransplantasi.


Pengobatan penyakit susunan saraf pusat selalu merupakan hal yang memprihatinkan dalam dunia kedokteran karena sebagian besar tidak punya pengobatan yang efektif, Terapi Stem Cell telah mengubah pandangan ini.
Yang di perlukan ialah implantasi kedalam susunan syaraf pusat (otak dan medulla spinalis), walaupun mungkin tidak langsung kedalam massa dari organ-organ ini.

Implantasinya harus ’intrathecal’ yaitu kedalam cairan cerebro - spinalis yang sangat penting untuk berfungsinya susunan saraf pusat , yang beredar didalam rongga disekitar dan didalam otak dan tulang belakang dan seluruhnya diganti setiap 24 jam . Ini merupakan metode Nerotransplantasi yang paling tidak traumatis,dibandingkan dengan implantasi intraventrikular lainnya. Karena itu biasanya dilakukan melalui kanal tulang belakang.

Efektifitas implantasi cell secara intrathecal telah terbukti pada pengobatan cedera tulang belakang baik cedera baru atau lama yang dianggap sebagai tantangan besar diseluruh dunia, Sebelum tanggal 1 Juli 2005 BCRO telah mengobati 20 orang pasien dengan cedera tulang belakang yang sudah lama, 17 orang diantaranya menunjukan kemajuan hanya setelah transplantasi pertama, yang dikerjakan dengan suntikan melalui tulang belakang . Laporannya ada di dalam buku
“Stem Cell Transplantation, A Text Book of Stem Cell Xenotransplantation”, karangan E. Michael Molnar MD.