logo
(021) 30014938, 08111-874448info@xenostemcell-indonesia.com

Terapi Stem Cell BCRO

Terapi Stem Cell BCRO
BCRO bukan menemukan prosedur terapi cell tetapi suatu metode untuk memproduksi sebagian besar jenis sel penting dari sekitar 200 macam cell untuk keperluan klinis yang dapat disuntikan dengan tingkat keamanan yang tinggi dan tanpa memerlukan obat anti imun.
Banyak publikasi laporan klinis yang melibatkan ratusan pasien memastikan tidak adanya reaksi imun yang nyata setelah Terapi Stem Cell , asal dipersiapkan dengan tepat misalnya dengan metode BCRO .
Terapi Stem Cell yang disiapkan dengan metode canggih dan tepat,tidak akan menyebabkan reaksi imun yang nyata secara klinis .

Bukti efektifitas Terapi Stem Cell tercatat dalam referensi medis (termasuk dari tim BCRO) selama 15 tahun. Terakhir dapat diperoleh dengan mudah di PUBMED data base medis milik MEDLINE, perpustakaan medis nasional milik Amerika Serikat dimana lebih dari 250.000 ikhtisar tentang Terapi Stem Cell yang dapat dipelajari. Ini bukti bahwa penggunaan transplantasi/Terapi Stem Cell dalam praktek klinik bukan suatu yang langka dan baru .

Laporan medis paling penting yang lama, (juga yang baru) sebagian besar ditulis dalam bahasa German dan Rusia termasuk kepunyaan BCRO , sudah ada dalam MEDLINE . Nilai publikasi ini menjadi nyata bila diingat bahwa lebih dari lima juta pasien terbanyak diGerman, Rusia (dan Swiss) telah menerima berbagai pengobatan sel,satu juta diantaranya menerima pengobatan Stem Cell segar,disamping itu diperkirakan lebih dari 20 juta pasien diseluruh dunia telah mendapat implantasi jaringan yang berasal dari pengembangan sel-sel dari plasenta manusia oleh para ahli di Rusia dan mengandung berbagai jenis sel trophoblastik ( sel perangsang pertumbuhan ).

Secara singkat kelompok penyakit diatas yang pengobatannya sering memerlukan Terapi Stem Cell .

    A. Diabetes Mellitus
    Seringkali akan mencapai tahap membahayakan hidup dengan komplikasi yang sangat mengganggu dan perkembangannya tidak dapat di kontrol hanya dengan mengatur kadar gula darah saja misalnya dengan diet, obat2 dan insulin.


Sudah di ketahui selama puluhan tahun bahwa Terapi Stem Cell merupakan satu-satunya terapi yang ada untuk diabetes fase lanjut.

Pada Februari 1999 Bio Cellular Research Organization LLC ( BCRO ) telah mengajukan permohonan empat penelitian obat baru (Investigational New Drug Application) kepada Badan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat,berkaitan dengan penggobatan tingkat lanjut dari kondisi yang mengancam nyawa dan komplikasi parah dari IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) :
1 Retinopati (Diabetic Retinopathy)
2 Nefropati (Diabetic Nephropathy)
3 Poli Neuropati ( Diabetic Polyneuropathy)
4 Penyakit gangguan pembuluh darah pada kaki

Tingkat keberhasilan Terapi Stem Cell yang memakai metode BCRO ialah :

  1. Diabetes dengan Gangguan penglihatan(retinopati)sebelum tahap proliferasi mencapai 65%.

  2. Diabetes dengan Kelainan ginjal (Nefropati) tahap pre-uremia mencapai 60%.

  3. Diabetes dengan dingin dan kesemutan pada anggota tubuh (poli neropati) mencapai 98%.

  4. Diabetes dengan penyakit arteri pada kaki pada tahap pra gangren mencapai 65 %.


Keberhasilan penanganan komplikasi diabetes dengan Terapi Stem Cell,akan semakin tinggi apabila dilakukan secepatnya setelah diagnosis ditegakkan.
Sampai 80% anak-anak yang menderita “Brittle” Diabetes / sulit dikontrol gula darahnya dan sudah menunjukkan gejala komplikasi tertentu, pada saat di rujuk untuk Terapi Stem Cell ternyata 85% menunjukkan perbaikan.

Sejumlah anak yang baru menderita Diabetes Mellitus telah berhasil dibantu dengan Terapi Stem Cell sebagian sembuh dan sebagian yang lain paling tidak mengalami penundaan timbulnya diabetes anak selama setahun atau lebih, fakta ini penting karena diabetes dikenal sangat merugikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Persiapan Terapi Stem Cell dengan metode BCRO yang mencakup suatu sistem tersendiri yang melibatkan teknik kultur jaringan primer, akan menurunkan penolakan oleh tubuh penerima Stem Cell.
Tanpa penggunaan zat anti penolakan (immuno supressant), ini penting sekali terutama untuk pengobatan diabetes mellitus karena selain efek samping yang sudah diketahui, masalah spesifik orang diabetes dengan imunosupresant ialah meningkatnya kebutuhan akan sel Beta dari pankreas sehingga dapat menghentikan kapasitas memproduksi insulin.Efek pengurangan ini jauh lebih besar pada transplantasi sel Pulau Langerhans dibanding transplantasi organ pankreas.

Alexis Gabriel pemenang nobel dalam bidang fisiologi pada tahun 1930 sudah menyatakan bahwa : Insulin tidak dapat menyembuhkan diabetes mellitus, yang dapat hanyalah terapi cell. Pernyataan ini sekarang masih berlaku bahkan setelah percobaan DCCT ( diabetes control and complication trial) dipromosikan secara luas di Amerika Serikat.
Insulin mencegah kematian seorang penderita diabetes baru, tetapi tidak dapat menghentikan terjadinya komplikasi diabetes yang menakutkan, menyebabkan kecacatan,dan kematian setelah penderitaan berkepanjangan.

Penyebab semua komplikasi diabetes masih belum diketahui tetapi mungkin disebabkan oleh kurangnya hormon tertentu yang saat ini belum di kenal, yang kemungkinan diproduksi oleh berbagai sel Pulau Langerhans di pankreas atau oleh sel sel lain dari berbagai sistem pengatur metabolisme karbohidrat dan lemak.

Pengalaman klinis selama empat dekade menunjukkan bahwa kalau komplikasi diabetes mellitus yang menyulitkan itu mulai timbul,maka hanya terapi Stem Cell yang mampu menghentikan laju perkembangannya. Ini berarti bahwa sel-sel yang di implantasikan pada organ atau jaringan yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat, secara langsung atau tidak langsung memproduksi hormon (endokrin atau parakrin) yang hilang itu.

Menurut data Internasional Diabetes Federation, jumlah penderita di Indonesai diperkirakan 10 Juta (urutan ke tujuh dunia) dan menjadi pembunuh nomer tiga di Indonesia akibat komplikasinyanya(Sample Registration Survey 2014), dissamping itu prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia menunjukan kecenderungan meningkat dari sekirtar 5,7% (2007) menjadi 6,9% (2013)

Diabetes dengan kopmplikasi menurut data National Institute of Health (USA) per 1 April 1998 :

  1. Sebanyak 15,7 Juta penduduk Amerika Serikat (6%) menderita diabetes mellitus yang 7% diantaranya atau sekitar 1,1 Juta orang menderita diabetes mellitus tipe 1 (tergantung insulin) dan sisanya dari tipe lain terutama tipe 2 ( tidak tergantung insulin atau NIDDM).

  2. Retinopati Diabetes merupakan penyebab utama kebutaan baru di Amerika Serikat setelah 15 tahun, 97% pasien IDDM, 80% dari pasien NIDDM yang di beri insulin serta 55% dari pasien NIDDM yang sudah diobati dengan insulin akan mengalami retinopati dan sekitar sepertiga dari pasien pasien ini akan mendapat retinopati proliferatif yang sangat berat, dan menyebabkan kebutaan.

  3. Nefropati diabetes merupakan penyebab utama penyakit ginjal berat di Amerika Serikat yang memerlukan terapi ginjal yang artifisial (hemodialisa) dan transplantasi/cangkok ginjal , terjadi pada 35% dari semua pasien diabetes. Setelah 15 tahun , 25% pasien diabetes mengeluarkan protein dalam urine dan dalam 10 tahun 50% dari pasien IDDM dan 11% pasien NIDDM akan harus menjalani dialysis ginjal.

  4. Polineropati diabetes akan timbul setelah 15 tahun pada 30-70% pasien diabetes baik yang IDDM maupun NIDDM.

  5. Diabetes mellitus merupakan penyebab kematian nomor 7 di Amerika Serikat tiap tahun dilaporkan 200 ribu kematian.

  6. Penderita diabetes jauh lebih sering menderita penyakit jantung pada usia lebih muda dan dengan prognosa fatal dibanding dengan yang bukan penderita diabetes.
  7. Penderita diabetes berisiko 2,5 kali lebih besar untuk mendapat stroke dibanding kelompok non diabetes.

  8. Banyak penyakit sistem pencernaan, infeksi, masalah gigi dan depresi jauh lebih sering terjadi pada pasien diabetes di banding non diabetes.[/ol]


      B. Gangguan hormonal.

    Beberapa kelainan defisiensi hormon yang keseimbangannya tidak dapat dikembalikan hanya dengan terapi sulih hormone, telah tertolong dengan Terapi Stem Cell (SCT) dan kejadian ini semakin sering ditemukan.

    Selain diabetes mellitus ada penyakit hormon lain dimana fungsi kelenjar endokrinnya rendah seperti hipothyroidisme, menopause dini dll. Bila sudah tidak dapat diatasi dengan terapi sulih hormon standar mungkin memerlukan Terapi Stem Cell

    Belakangan ini semakin banyak tercatat bahwa pada penyakit dengan fungsi kelenjar endokrin rendah , hasil pengobatan sulih hormon yang di capai tidak seperti yang diharapkan walau ditangani oleh pakar endokrin yang terbaik.

    Pada waktu yang sama para dokter semakin sering menemukan bahwa pasien yang didiagnosa sebagai hipotiroidisme atau penyakit Addison (yang fungsi adrenal cortexnya rendah) mendapat penyakit itu karena auto imun.



    Mungkin kegagalan terapi sulih hormon klasik pada pasien disebabkan oleh :

    1. Perkembangan yang sangat cepat dari proses perusakan sel-sel kelenjar endokrin yang sakit, sehingga sel kelenjar endokrin yang masih berfungsi menjadi sangat kurang.
    2. Terapi oral hormon menekan fungsi sel yang memproduksi hormon yang sama dengan cara inhibisi kompetitif, hal ini mungkin juga ikut berperan.
    3. Akibatnya tablet hormon dosis tingi pun tidak dapat memberi pasien kadar yang memadai sebagai pengganti hormon yang hilang.

  9. Dalam keadaan ini para pakar endokrinologi semakin sering berpaling kepada Terapi Stem Cell.
    Tujuan Terapi Stem Cell pada pengobatan penyakit auto imun, ialah :

    1. Terutama modulasi imun yaitu menormalkan fungsi sistem imun dan dengan demikian dapat mengurangi proses autoimunitas.
    2. Perbaikan atau regenerasi sel penghasil hormon yang tidak/ kurang berfungsi

    Terapi Stem Cell tidak bertujuan untuk menghilangkan kebutuhan akan terapi sulih hormon, tetapi lebih untuk menyeimbangkan .
    Menyusul Terapi Stem Cell,kadar hormon harus lebih sering di ukur dan dosis pemberian hormon secara oral di turunkan seperlunya


      C. Menopause dini

    Yang gagal diobati dengan terapi sulih hormon standar, merupakan kelompok penyakit yang 10 tahun terakhir diobati dengan Terapi Stem Sel dengan hasil yang sangat baik.

    Dokumen BCRO LLC mencatat bahwa pasien menopause dini mendapat manfaat yang sangat baik dengan pengobatan Terapi Stem Cell.
    Kadar hormon-hormon berikut ini di dalam serum yang berada pada tingkatan menopause sebelum Terapi Stem Cell :
    1 Estrogen
    2 Progesterone
    3 Hormon Penstimulasi folikel pituiter ( FSH)
    4 Hormon Luterin Pituiter ( LH)
    5 Prolaktin pituiter
    6 Kortisol
    7 Hormon tiroid
    8 Hormon Penstimulasi tiroid pituiter

    Kembali normal setelah 4 minggu dan tetap rendah atau tingkat normal selama 4-5 bulan setelah terapi Stem Cell, segera setelah Terapi Stem Cell berikutnya kadar hormon kembali ke tingkat hampir normal dan bertahan selama 6-7 bulan.Kombinasi yang tepat antara Terapi Stem Cell dengan terapi sulih hormon dapat membuat pasien sehat kembali.